Thursday, September 17, 2009

Should You Be Institutionalized?

It doesn't hurt to take a hard look at yourself from time to time. This little test should help you get started.


During a visit to a mental asylum, a visitor asked the Director what the criteria is that defines if a patient should be institutionalized.
"Well," said the Director, "we fill up a bathtub. Then we offer a teaspoon, a teacup, and a bucket to the patient and ask the patient to empty the bathtub."
Okay, here's your test:
1. Would you use the spoon?
2. Would you use the teacup?
3. Would you use the bucket?

"Oh, I understand," said the visitor. "A normal person would choose the bucket, as it is larger than the spoon."
What was the director's response?

 

What do you think?

Do you want to know the answer?

           

 

The answer is:

"No," answered the Director. "A normal person would pull the plug."


So, how did *YOU* do?

Should You Be Institutionalized??

 

Untuk menjadi Renungan Hari Ini

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."

Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu."

Sahut Simon: "Katakanlah, Guru."

"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya."

Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."

 

+ ??? +

Wednesday, September 09, 2009

Renungan hari ini

Banyak motivator nasional maupun dunia mengarahkan kita dengan berpendapat bahwa hidup manusia ditujukan untuk 2 hal ini,

yaitu menghindari kepahitan dan kesedihan serta mencari kebahagiaan dan kesuksesan. Hari ini juga SANG KEBIJAKSANAAN menuturkan ulang apa yang 2000 tahun lalu pernah disampaikan, jauh sebelum para motivator, jauh sebelum ada peribahasa, “berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” atau dalam versi lain dikatakan, “No Pain, No Gain!”.

Inilah wejangan mahsyur dari SANG KEBIJAKSANAAN itu:

"Berbahagialah, hai kamu yang miskin,

karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar,

karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis,

karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya,

karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang,

karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa,

karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu;

karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

(Luk.6:20-26)

Wejangan SANG KEBIJAKSANAAN itu membuka mata kita akan pilihan hidup kita dan implikasinya bagi kita yakni ”bahagia” dan ”celaka”.  Tuhan menghendaki kita masuk dalam kebahagiaan itu. Namun tidaklah otomatis atau instant, kita perlu serius dalam memilih hidup di dunia ini. Gambaran itu membantu kita dalam memilih dan menentukan sikap hidup kita saat ini.  Berhadapan dengan situasi dunia yang menawarkan banyak hal menarik, kita harus waspada. Tidak semua hal menarik itu membawa kebahagiaan. Mungkin kita akan senang, namun itu sesaat dan bukan kebahagiaan abadi. Untuk apa kaya kalau kita tidak punya jaminan keselamatan kekal?  Baiklah kita selalu membuka hati bagi Tuhan sehingga setiap keputusan dan pilihan kita memang mengarah kepadaNya. Walaupun secara manusiawi pilihan itu tidak menyenangkan dan berat, namun itulah yang menjadi kehendak Tuhan. Marilah kita mengusahakan kebahagiaan abadi lewat pilihan dan sikap hidup yang tepat setiap hari.

 

Salam damai,

Alfonsus A.K.