Sunday, July 26, 2009

Grentzsituationen

Karl Theodor Jaspers, filsuf asal Jerman yang banyak bicara tentang eksisitensi, pernah menyebutkan bahwa manusia selalu berada dalam situasionalitas, atau situasi tertentu. Istilahnya adalah situasi batas (grentzsituationen=Borderline Situation). Kita bisa menghindarkan diri dari suatu situasi; kita bisa melarikan diri dari suatu situasi. Akan tetapi ini berarti bahwa kita akan tiba pada situasi lainnya. Kenyataan bahwa kita ada sebagai manusia adalah selalu ada-dalam-situasi tertentu yang tidak mungkin dihindari oleh manusia. Manusia adalah manusia-dalam situasi.
Sebagai Eksisten, manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus, yaitu kematian, penderitaan, perjuangan, dan kesalahan. Semua situasi batas itu mendua karena kepad eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur, tergantung dari keputusan manusia sendiri. Ber-eksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas.
Ada beberapa situasi batas, diantaranya penderitaan dan maut. Penderitaan di sini bisa berupa sakit. Penderitaan ini (baca: sakit) adalah sesuatu yang harus ditanggung sendiri dan tidak bisa dipertukarkan dengan orang lain. Jadi kalau anda sakit, anda cuma bisa menjalaninya dan tak bisa menukarnya dengan orang lain, sekalipun anda punya uang segunung, atau punya pasukan pengamanan yang siap menggantikan. Situasi batas yang paling final adalah maut. Maut melekat pada eksistensi sebagai suatu situasi-batas yang tidak bisa dielakkan. Apakah sebenarnya maut itu, kita tidak tahu. Yang pasti ialah bahwa maut akan mengakhiri eksistensi pada suatu saat yang tidak bisa ditentukan sebelumnya. Bahwa maut itu pasti, tidak akan mungkin kita sangkal. Bila maut tiba dan apa sebenarnya maut, itulah yang pasti tak kita ketahui. Betapapun juga, maut adalah batas terakhir eksistensi. "

Ah... ternyata aku hanya ADA dalam situasi tertentu, dan ketika aku lepas dari satu situasi, aku sudah ada dalam situasi lainnya. Tetapi Ber-ADA berarti menjadi eksisten yang bisa mengambil keputusan-keputusan untuk berkembang dalam setiap situasi. AMIN...

Saturday, July 25, 2009

Ojo Dumeh, Eling lan Waspada...!

Ojo Dumeh, Eling lan Waspada...
Ungkapan ini tidak hanya untuk orang jawa tapi berlaku bagi semua orang yang mau hidupnya damai, tentram, berhasil dan aman sampai TUJUAN hidupnya. Ketika seseorang benar-benar dalam proses pencarian jati diri dan bahkan dalam aktualisasi diri, maka pesan kuno "Ojo Dumeh, Eling lan Waspada" adalah pegangan yang tepat.

Ojo Dumeh, Eling lan Waspada artinya Jangan mentang-mentang (belagu/sok), Ingat (sadar) dan waspadalah....

Jangan mentang-mentang atau jangan sok lu... mentang-mentang kaya atau mentang-mentang lagi punya kerja bagus lu jadi sombong, begitulah kira-kira ungkapan ini jika dipakai dalam percakapan sehari-hari. Artinya Ojo Dumeh atau Jangan Mentang-mentang ialah mari kita bersikap rendah hati, tidak perlu sombong tapi tetap tahu diri, bahwa roda hidup selalu berputar, bahwa kita ini bukan siapa-siapa di hadapan Yang MahaPencipta, ojo Adigung, Adigang, Adiguna.

Eling lan Waspada atau Ingat dan waspadalah, berarti kita diajak untuk selalu sadar, tidak keblinger, tidak juga terbawa emosi atau lamunan, sadar akan Tujuan hidup sehingga kita harus selalu Waspada atas apa yang akan terjadi, siap-siap akan godaan, hambatan dan tantangan supaya tidak jatuh dalam dosa dan kesalahan.

Buku karangan Mas Teguh Pranoto ini sudah saya baca dan dalam kesederhanaan kalimat-kalimatnya, dia menyajikan isi dan nilai-nilai pesen Jwa kuno ini untuk membantu kita supaya tetap selalu Rendah hati, Sadar dan wasapada dalam mengejar Tujuan Hidup Kita, yaitu kembali pada Sangkan Paraning Dumadi, yaitu Allah Sang Pencipta.

Thursday, July 23, 2009

Jauh Lebih Dalam...

Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.
(Injil, Kamis, 23 Juli 2009)

Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Perumpamaan juga sebanding dengan analogi. Perumpamaan-perumpamaan Yesus umumnya cukup sederhana dan cukup mudah untuk diingat. Oleh karena itu, perumpamaan tersebut masih dapat diceritakan dari mulut ke mulut, sebelum akhirnya menjadi bentuk tertulis, bertahun-tahun setelah wafatnya Yesus. Salah satu sifat perumpamaan adalah penggambaran secara sepintas sebuah cerita yang sederhana dan lugas, namun memiliki makna yang jauh lebih dalam jika direnungkan lebih jauh.Yesus adalah Guru, termasuk Guru kita dalam Public Speaking. DIA punya cara yang luar biasa untuk mewartakan Kerajaan Allah. Hari ini kita diajari teknik Perumpamaan. Perumpamaan mengandaikan bahwa audiens/pendengar/pembaca perumpaan itu punya “pengertian” alias kemampuan mendengar, mencerna dan mengerti cerita dalam perumpamaan itu. Dan KALAU pun tidak mengerti ISI dari perumpamaan itu, maka diandakan bahwa seseorang harus merenungkan itu lebih dalam, jauh lebih dalam.
Apakah kita mengerti? Apakah kita sudah masuk lebih dalam untuk memahamiNYA? Seberapa dalam kita bermenung? Seberapa dalam kita memberi waktu untuk memahamiNYA? Mari masuk lebih dalam, jauh lebih dalam dari sebelumnya untuk mengenal DIA, untuk memahami SabdaNYA. Masuk lebih dalam dan kita pun akan mendapati pesan yang sangat mendalam, jauh lebih dalam dari sebelumnya. Mari masuk ke hadiratNYA, jauh lebih dalam…