Tuhan itu baik bagi semua orang.

Tuhan itu baik bagi semua orang…

Saudara-saudari yang terkasih, umat kristiani di mana pun Anda berada , entah sudah berapa lama kita menjadi orang kristen yang setiap tahunnya merayakan Natal; mungkin ada yang sudah dibaptis sejak bayi, mungkin ada juga yang dibaptis dewasa atau mungkin ada yang baru saja dibaptis atau malah justru ada yang baru mau dibaptis... Hal yang sama juga terjadi pada kita di tempat kita kerja masing-masing, entah sudah berapa lama kita bekerja, ada yang sudah dari awal, ada yang 7 tahun, 5 tahun, 3 tahun atau ada yang baru saja bekerja.

Sudah lama menjadi orang Kristen atau sudah lama bekerja tentu bukan menjadi ukuran bahwa kita sudah BAIK. Lama atau baru bukan menjadi patokan bahwa kita sudah menjadi pengikut Kristus yang BAIK. Pertanyaannya adalah: ”Mengapa kita harus menjadi BAIK?”

Pesan Natal 2009 yang disampaikan oleh PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia) dan KWI (Konferensi WaliGereja Indonesia) diberi Judul dengan mengutip dari Mazmur 145:9ª, “Tuhan itu Baik kepada semua orang...”  Mengapa kita harus menjadi BAIK? Karena Tuhan kita itu BAIK kepada semua orang. Karena begitu BAIKnya Tuhan kita, karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengkaruniakan Anak-NYA yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yesus, Anak Allah yang tunggal diutus ke dunia, Ia lahir di bumi ini demi kita.

Sebagaimana kelahiran Yesus Kristus adalah bagi semua orang, maka umat Kristiani pun hidup dan berbagi keBAIKan kepada semua orang. Ke semua orang, bukan hanya yang kristen saja, tetapi semua orang. Karena Tuhan itu BAIK kepada semua orang dan berkenan lahir di antara kita maka kita pun sebagai pengikut Kristus juga harus menjadi BAIK bagi semua orang, menjalin relasi penuh damai dengan sesama dari suku, agama atau golongan apapun. Dalam semangat Natal yang seperti inilah kita bisa merefleksikan peristiwa yang sudah kita lalui di tahun 2009; Krisis Ekonomi Global, aksi Terorisme, Pemilu, Bencana Alam atau bahkan perusahaan tempat kita bekerja. Tuhan itu BAIK karena kelahiran Yesus di dunia untuk memampukan kita melewati semua peristiwa tersebut BERSAMA sesama kita manusia. Kita tidak sendiri. Kita akan bisa melewati dan memaknai semua peristiwa hidup kita BERSAMA Yesus dan Sesama kita.

Maka Natal ini jangan berhenti hanya pada kemeriahan perayaan atau acaranya saja. Anugerah Natal terlalu besar untuk dibatasi dalam pesta atau perayaan saja, apalagi hanya disimpan sendiri. Hendaknya Natal ini kita resapi sukacitanya, kita alami damaiNya lalu kita bagikan kepada sesama. Itulah Natal: Kelahiran yang memberi kita kekuatan berbagi dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa hidup kita. Natal mengingatkan kita bahwa selalu ada kebaikan dalam peristiwa hidup ini, sehingga seperti Pemazmur, kita bisa berseru: Sungguh, ”Tuhan itu BAIK bagi semua orang dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikanNYA”.

Kebaikan Allah kepada kita tidak perlu lagi kita ragukan. Yang perlu diragukan adalah kebaikan kita. Mari kita bertanya pada diri masing-masing, apakah aku sudah BAIK? Mari ajak diri kita dan keluarga kita untuk Hidup sebagai orang Kristen yang BAIK, Mari berusaha menjadi Pekerja Kristiani yang BAIK, mari menjadi pembawa kebaikan, membawa damai Natal bagi Semua orang dengan mengasihi sungguh-sungguh sesama kita dari suku, agama atau golongan apapun. Sekali lagi kata kuncinya adalah BAIK. Hidup sebagai orang Kristen dan pekerja kristiani yang BAIK bisa ditunjukkan misalnya dengan menghargai waktu, bersemangat dalam bekerja, peduli pada rekan kerja, tidak mudah mengeluh, tidak menaruh rasa iri, menebar senyum keceriaan, disiplin, percaya diri karena bisa, rendah hati dan jujur bersahaja. Orang Kristen yang hidup dengan BAIK tentu berpikir yang BAIK-BAIK, berbicara yang BAIK, melihat yang BAIK dan bertindak dengan BAIK pula.

Maafkan saya kalau saya menutup tulisan ini dengan pengandaian yang sedikit bernada menantang:

Kalau memang kita BAIK, mari berlomba-lomba berbagi kebaikan. Kalau memang kita BAIK, tebarlah kebaikan dimanapun, dengan siapapun dan kapanpun karena memang Tuhan itu BAIK bagi semua orang. Kalau memang kita BAIK, mari jangan hanya BAIK di gereja saja, tetapi juga BAIK di tempat kerja dan BAIK di lingkungan masyarakat. Selamat Berbagi KeBAIKan.

Selamat Natal dan selamat menyambut Tahun Baru 2010.

Terimakasih.

 

Lady of Guadalupe

Our Lady of Guadalupe (Spanish: Nuestra Señora de Guadalupe) is a celebrated 16th-century icon of the Virgin Mary, mother of Jesus Christ. The image, also known as the Virgin of Guadalupe (Spanish: Virgen de Guadalupe) represents a famous Marian apparition. According to the traditional account, the image appeared miraculously on the front of a simple peasant's cloak. The image still exists; it is on display in the Basilica of Guadalupe in Mexico City. It is perhaps Mexico's most popular religious and cultural image, and the focus of an extensive pilgrimage. The feast day of Our Lady of Guadalupe is December 12. She is said to have appeared to Saint Juan Diego on the hill of Tepeyac near Mexico City between December 9 and December 12, 1531.

The Virgin of Guadalupe is a symbol of significant importance to Mexican Catholics. The Virgin Mary in this aspect has been given the title: "Patroness of the Americas". According to Bishop Francesco Giogia the Basilica of Our Lady of Guadalupe in Mexico City was the most visited Catholic shrine in the world in 1999, followed by San Giovanni Rotondo and Our Lady of Aparecida.[1]

The Virgin of Guadalupe has also symbolized the Mexican nation since the Mexican War of Independence. The armies of Miguel Hidalgo, Emiliano Zapata and Subcomandante Marcos all marched beneath flags bearing the Guadalupan image, and Our Lady of Guadalupe is generally recognized to be a symbol of all Catholic Mexicans.

Bunda dari Guadalupe atau dikenal juga dengan sebutan Our Lady of Guadalupe atau Virgin of Guadalupe, adalah salah satu dari peristiwa penampakan Maria paling tua yang tercatat dalam sejarah agama Katolik, peristiwanya terjadi di Meksiko, yang pada saat itu dihuni oleh oleh bangsa Aztek. Pada tahun 1521 penjelajah Spanyol Hernan Cortez berhasil menaklukkan bangsa Aztek dengan menduduki ibu kotanya. Bersamaan dengan pendudukan itu orang Spanyol juga menyebarkan agama Katolik ke antara suku indian Aztek. Salah seorang indian bernama Quauhtlatoatzin dibaptis oleh pastur Franciscan, lalu diganti namanya menjadi Juan Diego dan orang inilah yang berjumpa dengan Bunda Maria sampai 4 kali pada Desember 1531. Rentetan peristiwa penampakan itu dan kejadian-kejadian luar biasa yang menyertainya begitu istimewa sehingga menempatkan peristiwa penampakan itu menjadi salah satu peristiwa penampakan paling terkenal sampai sekarang.

Bunda Maria menampakan dirinya kepada indian miskin tersebut di Tepeyac, sebuah bukit di timur laut kota Cuautitlan (sekarang Meksiko), Ia menyatakan dirinya sebagai "Ibu dari Allah yang benar", mengatakan kepada Juan Diego untuk memerintahkan uskup supaya membangun sebuah kuil. Sebagai bukti penampakannya, Bunda Maria mencetak citra dirinya pada tilma (semacam mantel yang dibuat dari serat kaktus) milik Diego. Tilma itu adalah pakaian kualitas rendah yang seharusnya tidak bertahan sampai 20 tahun tetapi secara ajaib tilma itu tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan setelah lebih dari 460 tahun kemudian.

Bandingkan dengan artikel di http://www.gerejakatolik.org/ziarah/guadalupe.htm

 

 

Hai sahabat-sahabat-Ku... , takutilah Dia!

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. (Luk. 12:1-7; Injil Jumat, 16 Oktober 2009)

Membaca perikop Injil hari ini, menikmatinya kata per kata, meresapinya, serasa mendapatkan dukungan kuat untuk selalu bermenung sambil bertanya, ”Kita hidup untuk siapa?” Aku Hidup untuk apa? Pertanyaan permenungan ini tentu tak akan terpuaskan dengan satu jawaban, tidak juga dalam satu saat dan permenungan selesai. It is ongoing contemplation. Terus akan dicari jawabannya. Kita diarahkan olehNYA hari ini melalui bacaan ini.

Banyak pekerja yang sering diberi tantangan yang menggairahkan untuk mencapai target tertentu dengan imbalan yang disepakati. Perlu dicatat bahwa kita juga pekerja di ladang Tuhan. Kita juga diberi tantangan baru untuk bekerja dengan JUJUR, Tidak MUNAFIK. Bersikap munafik cenderung membawa kita untuk tidak jujur, tidak menerima diri, sering berbohong karena satu kebohongan biasanya akan diikuti oleh kebohongan berikutnya. Akhirnya kita menjadi pribadi yang tidak percaya diri, bahkan penakut, karena takut menjadi malu, takut terbongkar rahasianya.

Sering kita merasa ”harus” berbohong dan menjadi munafik karena takut akan didera rasa malu kalau banyak orang tahu siapa diri kita yang sebenarnya, kita bersikap munafik untuk menutupi jati diri kita yang sebenarnya sehingga orang memandang kita sebagai pribadi yang hebat. Kita takut kepada mereka yang bisa menyinggung perasaan kita, kita takut kepada orang yang mungkin bisa membunuh tubuh kita maka kita berbohong dan berlaku munafik.

Tetapi kita mungkin lupa bahwa kita berharga di hadapan Allah. Kita ini kepunyaan Allah yang berharga yang akan dijagaNYA, bahkan rambut kepala kita pun dihitungNYA. Kita sering takut kepada orang lain tetapi justru tidak ”TAKUT” akan Allah yang memiliki dan memelihara kita. Kalau kita takut; kalau kita malu, seharusnya kita takut dan malu kepada DIA yang BerKUASA untuk melemparkan kita ke Api Neraka. Mari sahabat-sahabatku, jangan kita berlaku munafik dan takut kepada orang lain, tetapi Takutilah DIA...!

Takut akan Allah konvergen dengan Kita hidup untuk siapa, kita hidup untuk apa...?

TELITI DIRI

Manusia terkadang berbuat sesuatu yang menurutnya benar tetapi karena kurang teliti, akhirnya di kemudian saat baru menyadari bahwa dia salah. Kesalahan itu bukan karena pada dirinya dia jahat atau sengaja mengabaikan norma ataupun aturan yang berlaku, hanya saja kadang kesalahan seperti itu lebih disebabkan oleh kurangnya ”TELITI DIRI”.

Sekarang saya sadar bahwa saya salah mengambil bacaan Injil hari Senin kemarin, bacaan Injil hari Senin kemarin seharusnya menjadi bacaan Injil hari ini, Selasa, 6 Oktober 2009. Hal ini juga disebabkan karna kurangnya TELITI DIRI ketika melakukan sesuatu. Untuk itu saya mohon maaf.  Saya mohon maaf dan kiranya Anda masih berkenan saya ajak untuk membaca Injil hari ini:

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Luk. 10: 38-42)

 

Ketika kita merasa benar dengan apa yang kita lakukan, marilah tetap MENELITI DIRI. Marta merasa bahwa kesibukkannya melayani Yesus adalah hal yang benar yang harus dilakukannya. Bahkan karena merasa benar, Marta mengeluarkan kalimat supaya dibela atau dipuji oleh Tuannya dengan meminta Tuannya menyuruh Maria untuk membantunya. Tetapi jawaban Yesus sungguh luar biasa, di luar dugaan, "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." Kalau kita jadi Marta, tentu kita akan tertohok dan diam seribu bahasa. Diam dan meneliti diri.

Ternyata yang benar menurut kita belum tentu benar menurut ukuran yang lebih besar dan mulia. Karena merasa benar kita cenderung ”kewanen” (bahasa jawa: sok berani) dan lupa untuk tetap TELITI DIRI. Mario Teguh, motivator yang kalem nan cermat itu pernah mengatakan: Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan bila anda sedang takut, jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan anda. Mari menjaga keseimbangan sikap menuju kesuksesan dengan meneladani Maria, TELITI DIRI dengan duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.